Google+ Badge

Selasa, 05 Juli 2011

Peningkatan Kesejahteraan dengan Pola Pertanian Terpadu

A.Latar Belakang

  • Pada tingkat dunia – khususnya negara-negara maju dan berkembang seiring dengan semakin tingginya kesadaran akan kesehatan dan kualitas lingkungan, terdapat kecenderungan pergeseran pola konsumsi, yang mengarah kepada hasil-hasil pertanian – agro kompleks (hasil tanaman dan daging) yang di budidayakan secara organik, yaitu budidaya yang menggunakanbahan-bahan kimiawi seminim mungkin sehinga aman bagi kesehatan dan kualitas lingkungan.

Saat-saat ini, pemerintah melalui departemen pertanian, mulai menghimbau untuk kembali mengunakan bahan-bahan yang bersifat organik baik pupuk ataupun obat-obatan, dalam budidaya pertanian – agro kompleks (pertanian, peternakan, perikanan). Khususnya dalam pemupukan, diharapkan menggunakan pupuk kandang atau kompos, selain penggunaan pupuk urea, TSP dan KCL secara bijaksana dapat lebih memasyarakat. Pemberian pupuk kandang atau kompos dalam jumlah yang cukup dapat mengatasi permasalahan lahan pertanian atau tanah pertanian dalam hal pengerasan dan pemiskinan lahan/tanah pertanian, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat optimal dan aman bagi kesehatan manusia dan kualitas lingkungan hidup.
Dari kenyataan itu menimbulkan sebuah pemikiran; pertama: untuk memulai, menumbuh kembangkan usaha-usaha recovery tanah, yaitu merupakan suatu usaha untuk mengembalikan unsur hara tanah. Sehingga tanah menjadi gembur (tidak keras) dan kaya akan unsur hara. Yang pada gilirannya mampu meningkatkan produktivitas pertanian – baik kuantitas maupun kualitas.
Kedua, untuk memulai, dan menumbuh kembangkan budidaya pertanian menggunakan pemupukan yang berimbang antara unsur hara makro 6 jenis – yang dibutuhkan lebih banyak – yaituunsur N, P, K, Ca, S dan Mg. Dan unsur hara mikro 7 jenis, yang dibutuhkan lebih sedikit, yaitu: unsur Fe, Na, Zn, Mn, B, Cu dan Cl. Walaupun berbeda dalam jumlah kebutuhannya namun dalam fungsi pada tanaman, masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa mengalahkan/menggantikan satu dengan yang lainnya.
Ketiga,untuk memulai, dan menumbuh kembangkan budidaya pertanian menggunakan pengendalian hama terpadu (PHT) yang ramah lingkungan, dan aman bagi konsumen.
Keempat,untuk memulai, dan menumbuh kembangkan usaha-usaha pengolahan hasil produksi pertanian yang ramah lingkungan, dan aman bagi konsumen.
  • Salah satu upaya untuk mewujudkan pengembangan ekonomi di Negara agraris ini antara lain dengan cara pembangunan kawasan produksi pertanian berbasis komoditas unggulan dan teknologi. Misalnya: Peternakan sapi potong yang dapat dijadikan salah satu komoditas unggulan yang layak dikembangkan guna meningkatkan pendapatan masyarakat.
Selama ini, sebagian besar pola peternakan sapi potong rakyat masih menggunakan pola tradisional dan belum tersentuh inovasi teknologi tepat guna. Masyarakat masih menganggap ternak sapi hanya sebagai alat bantu dalam pengolahan lahan pertanian. Cara beternak yang masih individual dengan pola pemeliharaan di dekat rumah tinggal dan pemberian pakan seadanya mengakibatkan populasi ternak dan produktifitasnya relatif kurang berkembang. Pola pemeliharaan ternak sapi potong rakyat selama ini perlu diubah guna mempercepat peningkatan produktifitasnya.
Pertanian organik terpadu berbasis peternakan terbukti sangat menguntungkan. Integrasi ternak dengan lahan pertanian merupakan upaya percepatan pengembangan peternakan dengan penerapan keterpaduan antar komoditas ternak dengan usaha tanaman pangan, perkebunan dan perikanan yang saling menguntungkan berupa limbah usaha tanaman pangan, perkebunan dan perikanan yang digunakan sebagai pakan ternak untuk ternak dan kotoran ternak dalam bentuk kompos yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian.
Kegiatan pertanian terpadu membutuhkan bahan organik dalam jumlah banyak. Dari kegiatan penggemukan sapi potong dapat dihasilkan bahan organik berupa pupuk kandang dan pupuk cair. Sebagai gambaran, dari 3 ekor sapi dapat dihasilkan kotoran yang dapat dipakai untuk memupuk 5 Ha sawah per tahun. Selain itu, dengan teknologi sederhana kotoran ternak dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif menjadi biogas. <Sumber:http://agro-ekonomi.blogspot.com/2008/03/pertanian-terpadu.html>
  • Konsep terapan pertanian terpadu akan menghasilkan F4 yang sebenarnya adalah langkah pengamanan terhadap ketahanan dan ketersediaan pangan dan energy secara regional maupn nasional, terutama pada kawasan-kawasan remote area dari jajaran kepulauan Indonesia. F4 tersebut terdiri dari:
  1. F1 – FOOD : Pangan manusia (beras, gandum, jagung, kedelai, kacang kacangan , dan lain lain produk peternakan (daging, susu, telor dll) , produk budiaya ikan air tawar (lele, mujair, nila, gurameh dll) dan hasil perkebunan (kopi, teh, gula dll)
  2. F2 – FEED : Pakan ternak termasuk didalamnya ternak ruminansia (sapi, kambing, kerbau, kelinci ), ternak unggas (ayam, itik, entok, angsa, burung dara dll) juga pakan ikan budidaya air tawar terutama ikan herbivore dan omnivora yang tidak perlu protein konten tinggi ( mujair, tombro, bandeng, nila dan gurameh).
  3. F3 – FUEL : Akan dihasilkan energi dalam berbagai bentuk mulai energi panas untuk kebutuhan domestik/masak memasak, energi panas untuk industri makanan di kawasan pedesaan juga untuk industry kecil, juga akan dihasilkan power energy misalnya pure plant oil (PPO) atau dicampur menjadi bio diesel, ethanol dan gasohol, synthetic gas yang dihasilkan dari pirolisis gasifikasi maupun enzimasi gasifikasi dan juga pemakaian tenaga langsung lembu untuk penarik pedati, kerbau untuk mengolah lahan pertanian sebenarnya adalah produk berbentuk FUEL/ENERGY.
  4. F4 – FERTILIZER : Akan dihasilkan juga bio fertilizer yang semua juga memahami bahwa bio/organic fertilizer bukan hanya sebagai penyubur tetapi juga sebagai perawat tanah (SOIL CONDITIONER), yang dari sisi keekonomisan maupun karakter hasil produknya tidak kalah dengan pupuk buatan (anorganic fertilizer) bahkan pada kondisi tertentu akan dihasilkan bio pestisida (dari asap cair yang dihasilkan pada proses pirolisis gasifikasi) yang dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan yang tidak berbahaya (bio preservative). Sumber:<http://integratedfarming.blogspot.com/2009/05/blok-dan-cluster-pertanian-terpadu.html>
image

B.Direction Principals

1.Visi :
·Asih – Asah – Asuh
·Tliti – Temen – Tenanan
·Angger Ukril yo gempil, gelem kemlawe yo nglamet.
2.Misi :
·Menumbuh kembangkan minat petani kepada pola pertanian terpadu dan ramah lingkungan.
·Meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil produksi pertanian (Agrokompleks) dengan pendekatan teknologi tepat guna.
·Menumbuh kembangkan produk-produk hasil pertanian, peternakan dan perikanan yang aman bagi konsumen.
·Membuka, menumbuh kembangkan pasar produk-produk pertanian baik di dalam maupun di luar negri.
3.Tujuan :
·Membangun jejaring usaha (business networking) sehingga memungkinkan dan memudahkan akses informasi, sinergi sumberdaya, kerjasama produksi, pemasaran, pelatihan, penelitian dan pengembangan.
·Meningkatkan kesejahteraan Petani dan Warga masyarakat pada umumnyasehinga mempunyai pancatan yang kokoh untuk bisa kembali kepada-Nya dengan selamat.

C.Pola Pemberdayaan

Dari F4 diatas tersimpulkan betapa besar kasih sayang Maha Pencipta terhadap makhluknya cholifah dibumi – tidak satupun ciptaannya yang sia sia.
Konsepsi – pemikiran diatas kami kenal dengan istilah budidaya pertanian secara organik, yang pada akhirnya menghasilkan produk-produk pertanian organik, (misalnya; beras organik, sayuran organik, dan lain-lain). Suatu hasil produksi pertanian yang sangat rendah residu kimianya.
Budidaya padi organik merupakan sebuah pemicu bagi tumbuh berkembangnya cara-cara bertani yang ramah lingkungan dan aman bagi konsumen. Pola tanam ini diharapkan, pada akhirnya, menjadi tradisi petani dalam setiap budidaya pertanian. Sehingga setiap kali petani bertani senantiasa menggunakan budidaya pertanian organik.
Program budidaya padi organik ini dijalankan dengan pendekatan saling asih – asah – asuh yang dilandasi sebuah pemikiran bahwa :
  1. Tanah sebagai lahan budidaya semakin berkurang potensinya sehingga cenderung semakin tidak efisien dan produktivitasnya cenderung menurun.
  2. Tingkat pencemaran tanah sebagai lahan budidaya semakin tinggi.
  3. Pola pemupukan yang dilakukan oleh petani pada umumnya yang tidak seimbang antara unsur hara makro dan mikro – sebagai unsur hara esensial.
  4. Pola pengendalian hama yang tidak menggunakan pengendali hama yang ramah lingkungan, bahkan cenderung meningkat penggunaan pengendali hama derajat tinggi oleh petani pada umumnya.
  5. Sikap dan perilaku petani pada umumnya kurang peduli terhadap kelestarian alam, dan resiko merugikan lainnya dalam jangka panjang (seperti rusaknya ekosistim, menurunnya derajat kesehatan manusia dan lain-lain).
  6. Terdapat kendala, inefisiensi dan kurang efektif dalam penggunaan pupuk kandang/kompos/bogasi, dalam budidaya organik secara massal.
Kami merasa yakin bahwa untuk mengatasi persoalan ini tidak mungkin membuat perlakuan yang insendental, parsial, atau hanya sepotong-sepotong. Namun diperlukan sebuah program yang berkelanjutan (sustainable) dengan personil-personil yang mempunyai komitmen dan integritas tinggi, yang didukung peran serta institusi-institusi maupun stakeholder-stakeholder yang berkompeten tentang ini.
Terdapat 4 (empat) Faktor yang dapat berlaku menjadi 4 variable terkontrol yang menentukan keberhasilan program ini yaitu : Lahan Budidaya; Pemupukan; Pengendalian hama, dan Sikap Petani.
Untuk itu telah dijalankan sebuah Program budidaya padi organik yang diupayakan melalui 3 (tiga) tahap penanaman atau 3 kali aplikasi teknis perlakuan terhadap lahan budidaya, pemupukan dan pengendalian hama, serta sikap petani itu sendiri (satu tahun proses perlakuan). Program ini terdiri dari kegiatan-kegiatan :
þBudidaya
  • Pengenalan dan penjelasan pola bertani yang ramah lingkungan dan teknis budidaya padi organik.
  • Teknis pengolahan lahan dan pemupukan dasar serta pengukuran derajat kesehatan tanah.
  • Teknis pembenihan padi
  • Teknis penanam bibit padi
  • Teknis Pemupukan baik tabur maupun semprot.
  • Teknis pengendalian hama terpadu.
  • Teknis pengairan.
  • Target kuantitas hasil padi kering panen 10 – 15 ton per hektar.
  • Pada budidaya padi pertama kali (tahap I) kualitas padi organik diperkirakan 30 %; pada budidaya padi yang kedua (tahap II) kualitas padi organik meningkat menjadi 60 %; sedang budidaya padi yang ketiga (tahap III) kualitas padi organik akan meningkat menjadi 90 %.
  • Peningkatan luasan lahan budidaya padi organik.
  • Demonstrasi penanaman – budidya padi organik.
  • Penelitian dan pengembangan budidya padi organik
þPengolahan Pasca Panen
  • Pembelian gabah kering panen, Rp. 100,-sampai dengan Rp. 200,- diatas harga pasar setempat.
  • Pengeringan Gabah.
  • Pemrosesan gabah kering giling menjadi beras.
  • Labeling/sertifikasi beras organik, prosentase keorganikan beras.
  • Pengepakan (packaging) beras kedalam 5 Kg dan 25 Kg.
  • Pemasaran beras dalam kemasan.
  • Distribusi beras dalam kemasan.
þPengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Budidaya Padi organic
  • Pelatihan-pelatihan dan pendidikan.
  • Studi banding
  • Kajian-kajian referensi ilmiah yang relevan
  • Penelitian-penelitian (researchs)
þPengembangan Peralatan dan sarana produksi
  • Pengembangan Kios pupuk, pengendali hama dan saprodi.
  • Tracktor Pengolahan lahan.
  • Handsprayer.
  • Gudang penyimpanan.
  • Timbangan duduk.
  • Tempat pengeringan gabah.
  • Mesin perontok padi.
  • Mesin penggiling gabah (Huller/Slip).
  • Kendaraan pengangkut.
  • Pembuatan greenhouse baik untuk pembibitan maupun sebagai lahan budidaya.
þPengembangan produk pertanian lainnya secara organik
  • Pengembangan budidaya hortikultura secara organik (ramah lingkungan), baik dalam lahan konvensional maupun menggunakan polybeg.
  • Pengembangan Perikanan dan peternakan secara organik, yaitu pemberian gizi seimbang dengan serendah mungkin kandungan residu kimia.
  • Pengembangan budidaya perkebunan tanaman keras secara organik (misalnya Mangga, Jambu dll), baik dalam lahan konvensional maupun menggunakan polybeg.
  • Penelitian dan pengembangan budidaya tanaman obat-obatan secara organik.
Tahun-tahun terakhir ini budidaya padi di lingkungan POMOSDA telah melakukan cara-cara bertani secara organik. Yang hasilnya justru melebihi cara-cara bertani secara konvensional. Cara-cara budidaya ini secara alami ditiru oleh masyarakat sekitar lingkungan POMOSDA.

0 komentar:

Poskan Komentar

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service